Monday, July 30, 2007

Mengenal Jamaat-e-Islami Pakistan

Pendahuluan

Sudah diakui masyarakat Internasional bahwa subcontinent adalah wilayah di Benua Asia yang produktif dan banyak melahirkan tokoh dan cendikia-muslim, baik yang bertaraf Nasional maupun Internasional. Karya dan pemikiran mereka sangat diperhitungkan oleh dunia Timur maupun Barat, karena pengaruhnya sangat besar dalam kebangkitan dunia Islam, khususnya dalam menghadapi tantangan modernisasi dan konsep-konsep sekuler yang didengungkan oleh Barat.

Setelah merdeka pada tanggal 14 Agustus 1947 dari jajahan Inggris, Pakistan merupakan sebuah negara yang diakui oleh masyarakat internasional. Setelah enam tahun merdeka yang tepatnya pada tahun 1953, organisasi-organisai keagamaan mulai tumbuh di Pakistan. Pergerakan yang pertama berdiri setelah merdeka dan sangat berpengaruh ketika itu adalah pergerakan Khatam-e-Nubuwat. Salah satu tujuan berdiri organisasi ini adalah untuk mengcounter pergerakan Ahmadiyah dibawah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku menjadi nabi dan mendapat wahyu lansung dari malaikat Jibril. Tidak hanya sampai disitu pergerakan Khatam-e-Nubuwat juga masuk dalam kancah politik praktis, hal tersebut dibuktikan dengan adanya campaign melawan regim Ayub Khan yang merupakan penguasa pada ketika itu.(1)

Jamaat-e-Islami Pakistan (JIP) yang dideklerasikan pada 65 tahun yang lalu oleh Maulana Maudoodi, merupakan salah satu organisasi yang sangat berpengaruh ditengah komunitas masyarakat Pakistan secara khusus dan masyarakat internasional secara umum.

JIP tidak hanya sebagai sebuah ORMAS, partai politik, atau organisasi Ishlah, akan tetapi ianya merupakan Jama’atun ‘Aqadiyatun (Ideological Party) yang meyakini bahwa Islam adalah agama yang syamil yang mengatur segala urusan manusia di dunia ini. JIP juga meyakini bahwa organisasi ini bukanlah sebuah Organisasi Nasionalisme yang pengaruhnya hanya sebatas masyarakat setempat, akan tetapi ianya merupakan oraganisasi da’wah yang bertujuan untuk meninggikan kalimah Allah dibuka bumi ini.(2)

Dalam makalah ini, penulis ingin memaparkan sedikit sejarah latar belakang berdirinya JIP, riwayat hidup pendirinya, organisasi-organisasi yang berafialiasi dengan JIP buat pengetahuan kita bersama.


Sejarah Singkat Pendiri JIP(3)
Sayyid Abul A'la Maudoodi lahir di Hyderabad, India Selatan pada tanggal 25 September 1903. Beliau lahir dari sebuah keluarga terhormat yang masih mempunyai silsilah keluarga Nabi Muhammad Saw. Ayahnya Ahmad Hasan adalah seorang pengacara dan nenek moyangnya pemimpin gerakan sufi yang terkenal di subcontinent. Maudoodi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara.

Setelah mendapatkan pendidikan dasar di rumahnya, Maudoodi melanjutkan pendidikannya di Madrasah Furqoniyah, sebuah sekolah dimana kurikulumnya adalah kombinasi dari ilmu Barat Modern dan pendidikan Islam Tradisional. Kemudian setelah itu beliau meneruskan studi di Darul Ulum, Hyderabad. Pada saat itu ayahnya terserang sakit dan akhirnya meninggal. Hal ini menyebabkan beliau tidak dapat melanjutkan pendidikan formalnya di Darul Ulum. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk menuntut ilmu, Beliau tetap belajar walaupun harus berusaha mendapatkan ilmu sendiri (self-acquired). Disamping itu, beliau juga mendapatkan pelajaran dari guru-gurunya di luar institusi. Penguasaannya akan bahasa Arab, Persia dan Inggris memberikannya kemudahan dalam menguasai ilmu Islam Tradisional dan ilmu Barat Modern. Jadi, perkembangan intelektual Maudoodi adalah merupakan hasil dari self-acquired dan stimulasi yang ia dapatkan dari guru-gurunya diluar institusi.

Maudoodi memulai karirnya dalam kancah intelektual subcontinent disaat usianya masih terbilang muda, yaitu 17 tahun. Ia terpilih menjadi editor koran dan majalah al-Jam'iyat yang merupakan organ dari Jam'iyatu al-Ulama-il-Hindi, sebuah organisasi para cendekia-muslim India. Di bawah pimpinannya al-Jam'iyat mengalami kemajuan yang sangat pesat dimana ia menjadi wadah central para intelektual muslim India dalam menuangkan ide-ide mereka. Maka tidak heran jika al-Jam'iyat menjadi koran muslim terbesar di India ketika itu.

Disamping bergelut dengan pena, Maudoodi juga aktif berjuang di dunia politik. beliau bergabung dengan pergerakan khilafat, sebuah gerakan oposisi melawan Inggris yang pada saat itu berkuasa di India. Tetapi beliau merasa kurang puas dengan management dan kepemimpinan dalam gerakan tersebut. Akhirnya, mengundurkan diri dan lebih memilih untuk berkonsentrasi di dunia akademis dan jurnalistik.

Pada tahun 1933, setelah mengundurkan diri dari al-Jam'iyat, Maudoodi menjadi editor Majalah bulanan "Tarjuman al-Quran" majalah ini menjadi kendaraan dalam menyebarluaskan ide dan pemikirannya di daratan anak benua India. Pada awalnya, beliau hanya mengekspos ide, nilai dan prinsip-prinsip dasar Islam, kemudian berkembang dengan mengangkat permasalahan dan konflik antara Islam dan Barat. Tidak hanya itu, beliau juga berusaha menyuguhkan problematika dunia modern beserta solusinya yang diambil dari sudut pandang Islam. Beliau yakin bahwa al-Quran dan as-Sunnah dapat menjawab tantangan zaman, maka beliau selalu berusaha menyikapi berbagai permasalahan dengan kembali pada pijakan dasar umat Islam, yaitu al-Quran dan as-Sunnah.

Maudoodi tidak hanya mencurahkan seluruh energi yang ada pada dirinya untuk menyebarkan ajaran Islam, tapi juga berusaha mengaplikasikannya dalam realitas kehidupan. Ia selalu menegaskan bahwa Islam bukan semata-mata agama yang berisikan doktrin-doktrin metafisikal ataupun ritual-ritual keagamaan, namun Islam adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aktivitas kehidupan manusia. Maka tidak heran jika ia dianggap sebagai figur yang mempunyai sifat ketokohan yang sejati dengan pemikiran-pemikirannya yang mampu menembus batas geografis subcontinent.

Disela-sela kesibukannya dalam dunia tulis menulis, Maudoodi tergelitik untuk kembali menapaki dunia politik. Dengan didukung oleh kematangan intelektual dan kepekaannya terhadap permasalahan nasional dan internasional, ia mendirikan organisasi baru yang diberi nama "Jamaat-l-Islami". Organisasi ini masih tetap eksis hingga kini dan bahkan menjadi salah satu partai politik Islam terkuat di Pakistan.

Dengan keterlibatannya langsung dalam urusan politik, khususnya sejak tahun 1948, Maudoodi harus menerima berbagai siksaan dari elit penguasa Pakistan yang tidak sejalan dengan motif dan tujuan pergerakannya. Bukan hanya itu, pada tahun 1953, Maudoodi berhasil lolos dari tiang gantungan dan pada tahun 1963 beliau selamat dari upaya pembunuhan.

Karya perdananya yang ditulis saat beliau berusia 20-an adalah ”al-Jihad fi al-Islam" yang merupakan jawapan dari penyataan Mahatma Ghandi bahwa agama Islam tersebar luas dengan pedang. Karya tulis ini mendapatkan sambutan baik dari penyair sekaligus filosuf subcontinent, Muhammad Iqbal.

Selain itu, Maulanan Maudoodi telah menulis lebih dari 120 buku, dan buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke berbagai bahasa yang diantaranya Arab, Inggris, Jerman, Turki, Persia, India, Perancis, Bengali dan Bahasa Indonesia. Karyanya yang monumental adalah tafsir Quran dalam bahasa Urdu yang berjudul "Tafhim al-Quran". Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk menulis tafsir tersebut. Karakteristik utama tafsir ini adalah mengedepankan relevansi Quran dengan kehidupan manusia sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

Pada bulan April 1979, Maulana Maudoodi terserang penyakit ginjal yang sudah dideritanya sejak lama. Walaupun sudah mendapatkan perawatan yang intensif di New York, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 22 September 1979, diusianya yang ke-76 dan dimakamkan di kediamannya, Lahore. Sebagian pemimpin-pemimpin pergerakan Islam diseluruh dunia datang kepakistan untuk mengucapkan ta’ziah. Solat jenazah beliau dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhowi.

Latar Belakang Ide Mendirikan Jamaat-e-Islami Pakistan

A. Asal Usul Jamaat-e-Islami Pakistan (1932 - 1938)
JIP sebenarnya adalah brainchild (karya ciptaan) Maulana Maudoodi (1903-1979) ide mendirikan Jamaat-e-Islami muncul ketika beliau mengigat berbagai masalah yang dihadapi umat Islam India. Maudoodi yakin bahwa tidak ada partai muslim yang akan berhasil kecuali mengikuti standar religious dan etika yang tinggi. Pentingnya partai bukan dilihat dari banyaknya jumlah anggota, tapi terletak pada seberapa jauh antara pemikiran dan aksinya dapat dipegang, karenanya Jamaat-e-Islami pada mulanya adalah merupakan pergerakan da’wah.

Maudoodi juga belajar banyak dari sejarah India. Abul Kalam Azad (1888-1958) pada decade ke-2 di abad 20 melalui jurnalnya Al-hilal mempromosikan partai Hizbullah, sebuah organisasi yang dibentuk untuk membangkitkan kesadaran beragama diantara umat Islam dan melindungi kemaslahatan politisi umat Islam. Pada tahun 1920 Abul Kalam Azad mengusulkan skema organisasi baru, beliau menyarankan umat Islam untuk memilih seorang Amir Shariat di setiap provinsi di India yang dibantu oleh majlis ulama untuk mengayomi urusan keagamaan umat Islam. Maka beliau mengirimkan beberapa orang kawanya yang telah dibai’at ke seluruh provinsi di India untuk membai’at orang lain atas namanya. Diantara utusan beliau itu adalah Mistri Muhammad Siddiq, seorang kawan dekat Maudoodi di tahun 1930 yang mempengaruhi pemikiran organisasi Maudoodi dan banyak membantu mendirikan JIP.

Sebagaiman disebutkan sebelumnya, Maudoodi juga pernah aktif dalam pergerakan Khilafat dan ikut mengorganisasikan umat Islam untuk meraih dukungan. Maudoodi juga belajar dari keberhasilan beberapa organisasi seperti Tahrik-i-Khaksar oleh Inayatullah Mashriqi (1888-1963) yang terkenal bakat organisasinya. Juga belajar dari Ali Jinnah pemimpin Muslim League yang banyak menekankan solidaritas, terorganisir dan bermoral.

Sufisme juga mempengaruhi JIP, sebagaimana Maudoodi melihat dalam tatanan sufi ada model organisasi yang amat berharga yan disebut Khanaqah dimana beberapa orang sufi tinggal di sana agar menjadi lebih dekat dengan syaikhnya. Tatanan yang ada dalam sufi dimana syaikh memainkan peran utama dan sebagai menyerahan diri sampai pemikiran menjadi konsep peran Amir dalam JIP.

JIP telah menciptakan mekanisme, struktur birokrasi dan manajemen yang dapat menahan berbagai tekanan dari berbagai fraksi dan sistem warisan dimana ia beroperasi. Model kekuatan organisasi yan pernah muncul ditahun 1930-an seperti Fasisme dan Komunisme. JIP bukanlah partai dalam artian liberal demokrat dimana suara terbanyak akan menjadikan pengambil kebijakan, tapi ia lebih mirip denga sebuah ‘senjata organisasi’. Buat Lenin, pemimpin pergerakan dijaring masuk melalui doktrin lalu ditugasi untuk memanuver massa masuk dalam barisan perjuangan menetang tatanan politik dan ekonomi yang ada. JIP juga sama, dengan perbedaan ia lebih memfokuskan perhatiannya pada memanuver pemimpin-pemimpin masyrakat, dibandingkan mengorganisasikan massa. Ini adalah ciri awal yang sama dari model Lanin dalam hal ini telah mencampuradukan makna revolusi di dalam ideologi JIP. JIP adalah gerakan da’wah dan juga pertai politik. Ia akan membawa perubahan dengan cara melebarkan batasan-batasannya sendiri dan berperang melawan stutus quo, tapi denga tujuan menenangkan hati para pemimpin dibanding massa. Maudoodi memang akrab dengan literatur komunis.(4)

B. Muncul Jamaat-e-Islami Pakistan (1938 - 1941)
Solusi organisasi Maudoodi terbentuk antara tahun 1938 – 1941. Di tengah krisis yang menggunung Maudoodi menyerukan semua organisasi dan partai Muslim untuk bersatu, tapi himbawannya tidak mendapat tanggapan. Mereka ada yang condong terlalu sekuler dalam cara pandangannya seperti Muslim League, atau terlalu condong pada kesucian spiritual seperti Jamaah Tabligh. Maudoodi mengkritik kekurangan-kekurangan mereka untuk meraih dukungan. Dan beliau menyebut Jamaat-e-Islami sebagai ‘pertahanan terakhir’ yang diperlukan untuk menghadapi keruntuhan tatanan sosial umat Islam di India.

Pada bulan Januari 1939 Maudoodi tiba di Lahore, Phatankot sebuah desa kecil di sebelah Timur Punjab. Tapi kemudian beliau pindah dari pengasingan di desa itu meninggalkan proyek Darul Islam, sebagai institusi pendidikan dan keagamaan yang didirikannya untuk umat Islam, lalu tinggal di Lahore. Di sana Maudoodi melalui jurnalnya Tarjumanul Quran memfokuskan kritikanya terhadap Muslim League.(5)

Maudoodi banyak menulis dan berpergian jauh. Audience setia beliau adalah kelompok intelektual Muslim. Beliau sering mengunjungi Aligarh Muslim Univesity, Muslim Anglo Oriental Colleage di Amritsar, Islamiyah College di Peshawar, Nadwatul Ulama di Lucknow. Karena sambutan para intelektual itu Maudoodi merasa terdorong dan yakin untuk mendiskusikan cita-citanya dengan lebih terbuka. Kepada merekalah, pada tahun 1939 -1940, di depan publik beliau mengusulkan pembentukan sebuah partai baru. Maudoodi disarankan bahwa beliaulah yang pantas dan sanggup untuk memegang tanpuk kepimpinan.

Tujuan Maudoodi adalah untuk mengubah ‘balance of power’ antara ummat Islam, Hindu dan pemerintah kolonial agar berpindah ketangan umat Islam. Beliau ingin memberikan jalan kepada umat Islam agar dapat menemukan jalan keluar bagi kelemahan politik mereka. Pada munya maudodi berfikir untuk skala seluruh daratan India, tapi ketika beliau mulai tinggal di Lahore pada tahun 1939 beliau mulai yakin bahwa kekuatan dan pengaruh politik umat Hindu di India tidak dapat dibendung lagi.(6)

Antara tahun 1938 – 1947 meskipun Jamaat-e-Islami masih terus beroperasi di India, tapi perhatian Maudoodi lebih banyak terfokuskan pada provinsi sebelah Barat Utara yang mayoritas Muslim. Meskipun beliau tidak berbicara mengenai pembagian India (khususnya untuk Muslim), tapi beliau menyepakati kenyataan politisi yang ada pada saat itu. Maudoodi sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menentang tuntutan Muslim League untuk membagi India, tapi yang ditentangnya adalah sikap sekuler partai itu.

Pada tanggal 26 Agustus 1941, 75 orang hadir atas undangan Maudoodi di rumah Maulana Zafar Iqbal. Undang-undang dasar partai disetujui dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari itu. Dan disepakati bahwa Jamaat-e-Islami akan dipimpin oleh seorang Amir dengan kekuasan terbatas.

Pembicaraan mulai menghangat ketika masuk kepada siapa yang akan menjadi Amir partai. Ada dua orang calon kuat selain Maudoodi: Muhammad Manzur Nu’mani, salah seorang Maulana Deoband dan editor jurnal Al-Furqan sebuah majalah ternama di Lucknow; Amin Ahsan Islahi, editor penerbitan Al-Islah, Murid dari Sayyid Sulaiman Nadwi dan Hamiduddin Farahi dan juga guru di Darul Ulum. Tapi pada tanggal 27 Agustus 1941 mayoritas memilih Maudoodi.(7)

Pada tahun 1945 dalam ijtima’ (rapat) partai seluruh India yang pertama kali Maudoodi terpilih kembali sebagi Amir. Saat itu di Phatankot hadir 800 orang. Perhatian rapat antara tahun 1943 -1947 terpusat bagaiman memecahkan masalah internal, biasanya seputar etika dan disiplin. Misalnya ceramah Maudoodi pada rapat di Allahabad dan Muradpur pada tahun 1946, dan di Madras dan Tonk tahun 1947 terkosentrasi pada bagaimana membangun karakter, dan menyesalkan disiplin dan moral yang lemah.(8)

Tentang masalah Pakistan, sejak didirikannya, JI tidak memiliki sikap yang jelas tentang itu. Tapi ketika ide Pakistan sudah semakin nyata Maudoodi memutuskan untuk menyetujuinya. Lalu beliau melepaskan Jamaat India dari bawah komandonya dan menjadi Amir untuk Jamaat-e-Islami Pakistan. Kini ide Jamaat-e-Islami yang diusung oleh maudoodi itu tetap eksis di beberapa negara di subcontinent diantaranya di India, Bangladesh dan Jammu & Kashmir.

Jamaat-e-Islami Pakistan Setelah Maudoodi
Pada tahun 1972 tampuk kepimpinan JIP beralih kepada Mian Tufail Muhammad, dan beliau merupakan teman akrab Maudoodi sejak awal berdirinya JIP. Dibawah kepimpinan Mian Taufail JIP memainkan peran yang sangat signifikan dalam membantu pemerintahan Zia ul Haq dalam masalah perperangan Afghnisatan melawan Soviet Union. Dan juga ikut dalam pemilu tahun 1985. Mian Tufail memimpin JIP sampai tahun 1987. Amir sekarang, Qazi Husaien Ahmad yang terpilih menjadi Amir sejak tanggal 6 November 1987 merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam kancah dunia perpolitikan di Pakistan. Gagasan pertama untuk bergabungnya partai-partai agama di Pakistan dibawah satu payung partai yaitu Muttahida Majlis-e-Amal (MMA) merupakan ide dari Amir JIP yang sekarang yang bertujuan menyatukan visi dan misi partai-partai agama demi untuk memperbaiki sistem pemerintahan di Paksitan yang notabenenya dipimpin oleh tentara.

Jumlah kader inti JIP secara keseluruhan adalah 15,824 orang. 1,295 adalah wanita. Jumlah anggota 2,844 orang. Simpatisan 56,455 orang, dan 9,381 diantaranya adalah wanita. JIP memiliki kantor diseluruh pakistan sebanyak 1,317 kantor. 1.932 kelompok binaan kader (studies circles) yang mengatur permasalah da’wah (tablighee), organisasi, politik. Semua program ini tiap bulan dilaporkan ke Markaz JIP di Mansoorah Lahore.(9)

Sistem yang dipakai oleh JIP adalah sistem majlis syura. Amir dipilih oleh majlis syura setelah memperhatikan dan mempertimbangkan segala masukan dari para anggota. Dalam struktur organisasi seorang Amir memiliki 6 orang wakil Amir. Dan setiap wakil amir tersebut menjadi ketua di departemen-departemen yang ada. Disana ada beberapa departemen dalam sistem organisasi JIP, diantaranya: departemen organisasi, pedulian agama (religious awareness), training, Public Affairs, Broadcast and Publication, Public Relations, election cell, dll.

JIP dalam mengembangkan sayapnya tidak terbatas pada satu wajihah saja, akan tetapi banyak wajihah yang dipakai untuk mengembangkan da’wah dan pengaruh ditengah-tengah masyarakat. Diantara wajihah-wajihah tersebut adalah:(10)

  1. Kissan Supplies Service, yaitu persatuan para petani.
  2. Pakistan Islamic Medikal Assosiation (PIMA), persatuan para dokter-dokter.
  3. Al-Khidmad Fondation (NGO)
  4. Shabab-e-Milli, organisasi pemuda yang sudah tamat belajar dan para pemuda yang tidak ada kesempatan utuk belajar.
  5. Pakistan Business Forum.
  6. Tehreek-e-Mehnat Pakistan (Labour Movement).
  7. Islami Mizamat-e-Ta’aleem (Islamic System of Education)
  8. Islami Jamiat Thalaba (man & women)
  9. Jamiat Thalaba Arabia ( in religous institusion)
  10. Schools Organization in all provinces, Bazmey Shahi (Sarhad), Bazmey Phegham (Punjab),
  11. Bazmey Sathi (Sind), Bazmey Shahbaz (Balochistan), Bazmey Mujahid (Kashmir).
  12. Islami Jamiat Wukala, organisasi para pengacara.
  13. Jamiat Islami Linnisa’
  14. Engineer Association.

Kesimpulan

Alhamdulilah dengan makalah siangkat ini, penulis mengaharapkan kita dapat memahami pergerakan JIP mulai dari latar belakang berdirinya sampai polemik yang terjadi di anak Benua ini sehinggal lahirnya JIP ditengah-tengah komunitas masyarakat sebagai salah satu Jamaah atau organisasi yang menginginkan ishlah (perbaikan) lewat da’wah dan sekaligus lewat jalur politk praktis. Walaupun dalam perjuanganya JIP – bisa digolongkan – belum begitu berhasil meraih kekuasaan di Pakistan, paling tidak kontribusi mereka terhadap memperbaiki masyrakat setempat banyak dirasakan oleh orang banyak.

Mungkin barangkali, kenapa JIP kurang begitu berhasil dalam merahih suara dalam tiap-tiap pemilu, mungkin dikarenakan kurangnya konsilidasi yang mengakar kebawah. Selama ini garapan yang mereka tekankan adalah bagaimana mempengaruhi para intelektual masyarakat dan para akademis kearah memahami agama Islam yang syamil, yang diharapkan dari para akademis ini mereka dapat mempengaruhi para pengikut mereka sehingga melahirkan masyarakat yang dinamis dan berkeadilan. Tapi, ciat-cita tersebut sempat terkendala karena tidak adanya konsilidasi kebawah sehingga masyarakat golongan menengah kebawah tidak tergarap dalam proses pembentukan pemahaman mereka terhadap agama itu sendiri. Wallahuallam bishowab.

Footnote
* Makalah ini di diskusikan pada tanggal: 5 Juli 2006 di hostel 4 International Islamic University, Islamabad oleh Forum Kajian Islam Al-qalam (FKIQ).
(1) Lihat: “A to Z of Jehadi Organization in Pakistan” 2005. oleh Muhammad Amir Rana, hal: 425. Publisher Marhal Books, New Garden Town, Lahore.
(2) Untuk lebih jelasnya tentang tujuan berdirinya JIP, silakan baca “Al-Jamaah al-Islamiayah fi Bakistan: Da’wah, Manhaj, Nizham, Dustur” Oleh Khalil Ahmad Al-Hamidi, Darul Al-‘Arubah Lidda’wah Al-Islamiyah, Mansoorah- Lahore. Tanpa tahun.
(3) Riwayat hidup ini penulis petik dari berbagai buku dan artikel, diantara buku tersebut ialah: “Sayyed Abul A’ala Maudoodi and His Thought” oleh Prof Masudul Hasan. “Maudoodi Thought and Movement” oleh: Syed Asad Gilani. “Introduction Maudoodi” oleh: Misbahul Islami Farooqi. Dan artikel dari majalah The Muslim World “Authobiographi Abul A’ala Maudoodi” oleh: Sayed Vali Reza Nasr.
(4) Lihat: “The Vanguard of the Islamic Revolution” bagian pertama berjudul “History and Development” hal: 1-5, oleh Sayyed Vali Reza Nasr. I.B Tauris & Co Ltd, 1994.
(5) “Sayyed Abul A’ala Maudoodi and His Thought” oleh Prof Masudul Hasan. Hal: 1/166.
(6) “Sayyed Abul A’ala Maudoodi and His Thought” Loc.cit hal: 1/167.
(7) ibid, hal: 1/244.
(8) ibid. hal: 1/256.
(9) Lihat: “A to Z of Jehadi Organizations in Pakistan” 2005. oleh Muhammad Amir Rana, hal: 425-426. Publisher Marhal Books, New Garden Town, Lahore.
(10) Untuk lebih jelasnya tentang isntitusi yang ada di bawah JIP silakan rujuk; “A to Z of Jehadi Organizations in Pakistan” ibid, hal: 427-432.

Referensi
  1. A to Z of Jehadi Organization in Pakistan, 2005. oleh Muhammad Amir Rana, hal: 425. Publisher Marhal Books, New Garden Town, Lahore.
  2. Al-Jamaah al-Islamiayah fi Bakistan: Da’wah, Manhaj, Nizham, Dustur, Oleh Khalil Ahmad Al-Hamidi, Darul Al-‘Arubah Lidda’wah Al-Islamiyah, Mansoorah- Lahore. Tanpa tahun.
  3. The Vanguard of the Islamic Revolution, oleh: Sayyed Vali Reza Nasr. I.B Tauris & Co Ltd, 1994.
  4. Sayyed Abul A’ala Maudoodi and His Thought, oleh: Prof Masudul Hasan. Islamic Publication (PVT) LTD. Lahore, 1st edition 1984.
  5. Maudoodi Thought and Movement, oleh: Syed Asad Gilani. Islamic Publication (PVT) LTD. Lahore, 1st edition 1984.
  6. Introduction Maudoodi, oleh: Misbahul Islami Farooqi. Student Publication Bureau, Karachi, 1968.
  7. Artikel dari majalah The Muslim World Volume: LXXXV, No: 1-2 Januari-April, 1995 “Authobiographi Abul A’ala Maudoodi” oleh: Sayed Vali Reza Nasr.

1 comment:

Ali said...

*salam* Dalam sebuah milis PKS, ada pengkauan seorang kader/simpatisan PKS yang menyatakan bahwa PKS satu platform ama JI ttg masalah Ahmadiyah. Hmm, bagaimana menurut Anda? Apakah PKS akan melibas Ahmadiyah sebagaimana Masyumi berbuat serupa di Indonsia pd thn 50-an?

*wasalam*