Monday, July 30, 2007

Militansi dan Madrasah di Pakistan: Studi Kasus Lal Masjid


Pendahuluan

Madrasah Pakistan pada akhir-akhir ini menjadi topik perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Madrasah dianggap sebagai ‘biang keladi’ pertumpahan darah diantara sekte-sekte yang ada di Pakistan. Anggapan ini bukannya tidak beralasan, sejak dua dekade yang lalu, tepatnya pada akhir 70an dan awal 80an ketika revolusi Iran - sampai sekarang - pergolakan anti syiah semakin gencar di gaungkan oleh kalangan madrasah sunni Deobandi(1) dan Ahli Hadith dalam rangka membendung pengaruh syiah di Pakistan, dan tidak sedikit nyawa melayang dalam tiap-tiap perkelahian diantara dua sekte ini.(2) Namun demikian, perkelahian antar madrasah ini tidak hanya terjadi diantara sunni-syiah saja, akan tetapi juga terjadi antara sesama penganut paham sunni (baca: school of Thougth) lainnya - contohnya deobandi dan barelwi – yang banyak berbeda dalam masalah fiqh yang tidak terlalu prinsipil.

Dari segi perspektif keamanan, sekte-sekte di pakistan mempunyai jaringan sosial, politik dan ekonomi dari lokal dan eksternal. Support yang diberikan oleh Saudi Arabia, Libya, Irak, Iran dan USA dalam membangun madrasah tidaklah sedikit, khususnya ketika perperangan di Afghanistan melawan Uni-soviet mulai pada akhir 70an.

Paska 11 September 2001, pandangan dunia mulai beralih kepada madrasah-madrasah Pakistan. Kalau dulu madrasah dianggap sebagai partner dalam mengusir musuh, kini setelah 11 September madrasahlah yang menjadi musuh bagi banyak kalangan. Kalau mau jujur berdirinya madrasah-madrasah ini tidak lepas dari ikut campur pemerintah Pakistan dan Amerika sendiri. Dan yang lebih parah lagi, madrasah dianggap sebagai ‘Bank Of Terrorist’ yang menjadi ketakutan bagi masyarakat nasional maupun international, khususnya orang Barat.

Sekarang timbul pertanyaan dalam benak kita, apakah benar sumber kekerasan yang ada hanya datang dari madrasah, setelah kasus Lal masjid terjadi ?. Atau ada hal lain yang menyebabkan institusi madrasah begitu disorot akhir-akhir ini? Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis mencoba untuk menjawab melalui tulisan singkat ini.

Gambaran Singkat Pendidikan Agama Islam di Pakistan

Pendidikan agama Islam di Pakistan terbagi kepada tiga kategori :(3)
1. Quranic School
2. Mosque Primary School
3. Madrasah
Yang pertama adalah sekolah dimana anak-anak belajar membaca Al-quran (baca: belajar iqra’). Tempat biasanya di masjid-masjid atau mushalla desa. Waktu belajar tidak teratur dengan jelas. Ada yang pagi, siang dan sore. Ustadz yang mengajar biasanya berasal dari desa tersebut.

Kedua sekolah dasar masjid, yaitu masjid dijadikan tempat belajar bagi anak-anak yang sudah berumur 7 tahun keatas. Inisiatif ini resmi dilakukan oleh pemerintah Zia-ul-Haq pada tahun 80an untuk mengatasi minimnya tempat belajar di pedesaan disebagian tempat di Pakistan. Selain belajar Al-quran mereka juga diajarkan oleh imam masjid setempat mata pelajaran bahasa urdu dan matematika. Namun pendidikan ini sering terkendala disebabkan para imam jarang yang menguasai bahasa urdu dan matematika dengan baik, yang akhirnya kebanyakan sekolah gulung tikar. Sekarang jumlah Mosque Primary School diseluruh Pakistan sekitar 25.000 buah sekolah.

Dan yang terakhir adalah madrasah. Madrasah di Pakistan berbeda dengan pesantren di Indonesia. Di Indonesia para santri tidak diwajibkan untuk manghafal Alquran seluruhnya, kecuali pesantren tersebut pesantren hifzul Alquran. Berbeda dengan di Pakistan, madrasah mewajibkan kepada murid-muridnya untuk menghafal Al-quran 30 juz sebelum belajar materi-materi lain. Karena al-quran merupakan asas bagi pelajar yang ingin mendalamkan ilmu agama.

Ada lima aliran besar pemikiran (school of Thought) di madrasah Pakistan: Deobandi, Barelwi, Ahli Hadith, Salafi dan Syiah. Tiap-tiap aliran pemikiran ini mempunyai metode pembelajaran yang berbeda. Tapi, Deobandi dan Barelwi adalah dua pemikiran yang paling dominan diseluruh madrasah Pakistan.

Madrasah Pakistan dan Jihad Afghanistan

Seperti yang telah disinggung di pendahuluan, bahwa lahirnya madrasah-madrasah di Pakistan tidak lepas dari campur tangan pemerintah dan jaringan international lainnya. Lebih tepatnya lagi, pada tahun 1977 Jenderal Zia-ul-Haq mengambil alih kepimpinan Pakistan melalui kudeta. Dua tahun kemudian Uni-Soviet menyerang Afghanistan yang bertujuan agar mempermudah untuk mendekati kilang-kilang minyak di teluk persia. Melihat ambisi Uni-Soviet ini, Amerika tidak tinggal diam. Ronald Reagen president Amerika pada ketika itu memanfaatkan moment ini untuk menumpaskan kekuasan Uni-soviet yang berkerjasama dengan Pakistan. Reagen langsung mengundang Zia-ul-Haq ke White House dan memberi uang 3 bilion dolar untuk membantu Pakistan melawan Uni-Soviet di Afghanistan. Sejak itu pemerintahan Zia-ul-Haq mulai dengan agenda Islamisasi dalam segala bidang dan tidak mengindahkan segala bentuk protes yang datang dari manapun. Undang-undang yang menyatakan persamaan hak wanita di hapus. Para aktivis demokrasi dipenjara. Disatu sisi pihak pemerintah mulai membangun camp-camp pelatihan mujahidin yang ingin berperang ke Afghanistan berkerja sama dengan pusat badan inteligen Amerika; Central Intelligence Agency (CIA). Sejak itu Berita khusus pakai bahasa arab mulai dikenalkan di Radio dan Televisi Pakistan.(4)

Ketika zaman perperangan Afghanistan-Uni-soviet, madrasah bukan hanya saja tempat generasi muda belajar dan menimba ilmu dari kitab-kitab turath, akan tetapi madrasah juga melatih para santrinya untuk bagaimana mengunakan senjata dan training-training jihad. Madrasah-madrasah yang berorintsikan jihad tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan, khususnya di North Western Frontier Province (NWFP) yang mempunyai perbatasan langsung dengan Afghanistan. Warisan dari conflik peperangan dingin Afghanistan ini menjadi bentuk madrasah-madrasah yang berafiliasi dengan organisasi jihad yang digunakan oleh para aktivis militan dalam menentang pemerintahan dan menuntut untuk menerapkan syariat Islam ala mereka.

Reformasi Madrasah

Sejak awal tahun 2002, hampir tiap bulan terjadi bom bunuh diri di Pakistan. Pada bulan Januari terjadi penyendraan terhadap reporter Wall Street Journal Daniel Pearl dan dia dibunuh pada bulan berikutnya. Pada bulan Maret di tahun yang sama, bom meledak di Gereja Islamabad yang menewaskan 2 orang rakyat Amerika. Di bulan May bom mobil meledak di konsulat Amerika di Karachi yang menewaskan 12 orang Pakistani yang bekerja sebagai satpam.

Melihat berbagai penomena yang terjadi, dalam public speaking yang disiarkan lansung oleh PTV dan Radio Presiden Farvez Musharraf pada tahun 2002 mengumumkan pembekuan beberapa organisasi yang yang berafiliasi langsung dengan jihad. Seperti Jaish-e-Muhammad, Tehreek-e-Nafaz-e-Shariat-e-Mohammadi (TNSM), Sifah-e-Sahabah, Laskar-e-Tayyiba dan Laskar Jhanvi. Dalam kesempatan itu juga Musharraf mengumumkan reformasi terhadap madrasah-madrasah yang ada. Semua maulana diharapkan untuk mengregistrasi madrasah dengan pemerintah. Kurikulum madrasah harus dirubah dengan memasukan pelajaran umum, seperti komputer dan Bahasa Inggris.

Pada awalnya banyak para maulana yang tidak mentaati himbawan dari Musharraf tersebut, karena takut kalau anak didik mereka terpengaruh dengan gaya pendidikan ala barat. Pro dan kotra terjadi dimana-mana. Sehingga wacana reformasi madrasah ini tidak hanya dibincangkan di kalangan para intelektual, akan tetapi hal ini menjadi perbincangan yang hangat di parlemen Pakistan juga.

Melihat himbawan awal yang tidak begitu digubris oleh pemimpin-pemimpin madrasah, akhirnya pemerintah mengancam akan menutup madrasah-madrasah yang illegal dan memulangkan pelajar-pelajar asing yang belajar di Pakistan. Aksi dan ancaman ini keluar setelah bom bunuh diri meledak pada tanggal 7-7-2005 di stasiun kereta api bawah tanah di London. Konon yang tersangka pengeboman tersebut adalah Shehzad Tanweer seorang rakyat Inggris yang pernah datang ke Madrasah Fareedia (sector E-7) dua bulan sebelum pengeboman tersebut.

Berapa jumlah keseluruhan madrasah di Pakistan? Menurut Rahman (2004:311) ada sekitar 10.000 madrasah sekarang di Pakistan dengan jumlah pelajar secara keseluruhan 1.7 milion. Dan penduduk Pakistan yang belajar di madrasah menurut (The International Crisis Groups: 2002) hanya 1/3 dari total penduduk.(5)

Apakah semua madarasah di Pakistan melahirkan militan-militan garis keras? Tidak semua madrasah mendoktrin para santrinya kearah garis keras. Hanya sebagian saja dari madrasah yang ada tersebut yang memang berdirinya sudah mempunyai doktrin tersendiri. Dalam bukunya “A to Z of Jehadi Organizations in Pakistan” Muhammad Amir Rana menjelaskan bahwa madrasah-madrasah di Pakistan yang berorientasikan Jihad relatif minoritas, dari 11 organisasi yang ada hanya 3 yang betul-betul orientasi berdirinya adalah jihad.

Fakta ini juga didukung oleh Peter Bergen dan Swati Pandey dalam opini mereka di New York Time (June 14, 2005) yang berjudul “The Madrasah Myth”. Menurut data yang mereka kaji, dari empat penyerangan: WTC tahun 1993, Embassy Amerika di Kenya tahun 1998, WTC 11 september 2001 dan Bom Bali 2002. 75 orang teroris dibelakang penyerangan tersebut, cuma 9 orang yang jebolan madrasah, selebihnya adalah jebolan universitas barat, khususnya Jerman dan Amerika.

Masih Menurut The International Crisis Groups, Hanya 10 sampai 15 parsen saja dari madrasah-madarasah yang ada di Pakistan yang aktifitasnya yang bersinggungan langsung dengan militan garis keras. Namun demikian mayoritas dari madrasah-madarasah tadi juga andil dalam permusuhan diantara sekte-sekte yang ada.

Kasus Lal Masjid

Lal Masjid (masjid Merah) resmi berdiri pada tahun 1965. Lal dalam bahasa urdu berarti merah, karena pada awal berdiri masjid ini memakai batu-bata merah – persisi sepeti batu-bata bangunan IIU, Islamabad. Namun sekarang batu-bata tersebut tidak kelihatan karena sudah diganti dengan cat berwarna merah. Sejak masjid berdiri banyak pejabat pemerintah, tentara, Prime Minister dan presiden yang telah melaksanakan sholat di masjid bersejarah ini.

President Zia-ul-Haq dan beberapa Inteligen Pakistan (baca: Inteligence Service Investigation-ISI) begitu dekat dengan Maulana Muhammad Abdullah - orang tua Maulana Abdul Aziz dan Abdul Rashid Ghazi – yang ketika itu sebagai imam Lal Masjid. Ketika Afghanistan di serang oleh beruang merah Rusia (1979-1989), Lal masjid memainkan peran yang tidak sedikit dalam merekrut calon-calon mujahidin yang akan dikirim ke Afghanistan. Dengan Karismatik yang dimiliki oleh Maulana Abdullah, President Jeneral Zia-ul-Haq mengunakan kesempatan itu dengan menjadikan beliau sebagai penasehat dan membangun beberapa madrasah di Islamabad dengan bantuan inteligen pakistan yang berkerjasama dengan CIA.(6)

Maulana Abdul Aziz – anak pertama Mulana Abdullah - datang ke Islamabad dari Balochistan ketika beliau berumur 6 tahun. Setelah belajar beberapa tahun di sekolah dasar beliau dikirim ke Jamiah Binnoria di Karachi. Sedangkan adiknya Abdul Rashid Ghazi, Alumnus Universitas Quaid-e-Azam, Islamabad dengan spesialisasi dalam sejarah. Setelah tamat dari Quaid-e-Azam, Ghazi bekerja di UN Culture organization. Kehidupan Ghazi yang pada awalnya terpengaruh dengan western style berobah total setelah ayahnya di bunuh pada tahun 1998. semenjak itu Ghazi resmi bergabung dengan Abangnya maulana Abdul Aziz dan diangkat sebagai wakil imam di Lal-masjid sekaligus menjadi pimpinan madrasah Fareedia.(7)

Masih dalam lingkuangan Lal masjid, disana ada dua jamiah. Jamiah lil banin dan Jamiah Hafsa lil banat yang terpisah oleh tembok. Jamiah Hafsah didirikan pada tahun 1989. Semua jumlah santri yang belajar di sana sekitar 4000 orang. Masing-masing Jamiah ini mempunyai dua departeman. Pertama departeman khusus buat menghafal Al-quaran. Kedua "higher classes" tafsir, usul fiqh, matematika, dan pelajaran umum lainya.(8)

Peta Permasalahan Lal Masjid

Setelah 11 September, pemerintah Pakistan secara resmi mendukung agenda Amerika dalam “war on terror”. Dukungan yang diberikan oleh pemerintah ini mendapat kecaman dari petinggi Lal masjid karena disamping datangnya Amerika untuk membombardir Afghanistan, Amerika juga mengunakan tanah Pakistan yang Yaqobabad sebagai pangkalan udara tentara Amerika. Perizinan yang diberikan oleh pemerintah kepada Amerika tersebut menuai kemarahan bagi rakyat Pakistan termasuk petinggi Lal Masjid.

Pada bulan Juli 2005, salah seorang mantan pelajar Lal masjid dituduh sebagai pelaku pengeboman di stasiun kereta api bawah tanah di London. Polisi Islamabad mendatangi Lal masjid untuk menginvestigasi hal tersebut. Tapi kedatangan para investigasi itu disambut oleh santri Jamiah Hafsa dengan pentungan dan tongkat.

Pada bulan Januari 2007, para santri secara terang-terangan menantang pemerintah yang meroboh beberapa masjid di Islamabad dengan alasan masjid tersebut berdiri tanpa izin (illegal). Petinggi Lal Masjid dan para santrinya menuntut agar pemerintah membangun kembali masjid-masjid yang sudah dibongkar. Melihat tuntutan mereka tidak digubris oleh pemerintah, santri Jamiah Hafsa rame-rame keluar dan menyendera Children Library yang berdekatan dengan Lal-masjid. Para santri juga mengumumkan untuk menjalankan syariat Islam di lingkungan Lal masjid.

Upaya dialog dengan pimpinan Lal masjid sudah dilakukan oleh pihak pemerintah dengan mengutus mentri agama – Ijaz-ul-Haq. Dalam dialog tersebut para santri menuntuk pembangunan kembali masjid yang telah dirobohkan, kalau tidak maka mereka tetap ngotot untuk tinggal di Children Library.

Merasa tuntutan mereka tidak digubaris oleh pemerintah, lagi-lagi pelajar Lal masjid membuat ulah dengan merampas kaset dan CD di Aapara Market lalu membakarnya. Mereka juga menyendra polisi dan beberapa orang rakyat cina.

Melihat penomena ini semakin parah, pada tanggal 3 Juli 2007 mulai operasi curfew di sekirat Lal masjid yang akhirnya mengakibatkan terbunuhnya orang nomor dua Lal masjid Abdul Rashid Ghazi pada tanggal 10 Juli.

Lal masjid-Lal Masjid baru

Apakah aksi kekerasan dan anti pemerintah di Pakistan akan berakhir sampai disini dengan berakhirnya operasi di Lal masjid? Jawapannya tentu saja tidak.

Hal ini kelihatan jelas setelah sehari berakhirnya operasi di Lal Masjid kawasan Swat, Dera Ismail Khan dan Miram Shah menjadi tempat yang sangat empuk bagi para militan untuk menuntut balas terhadap polisi dan tentara. Sampai sekarang sudah lebih dari 200 orang personil polisi dan tentara yang meninggal dunia, dan tidak sedikit rakyat sivil yang menjadi sasaran bom bunuh diri tersebut.

Selang beberapa hari setelah kasus lal masjid berkahir, Tehreek-e-Nafaz-e-Shariat-e-Mohammadi (TNSM) yang berpusat di Malakand Agency (NWFP) mengumumkan mendirikan syariat Islam. Dua hari setelah itu kelompok yang mengatas namakan pemuda Islam di Balochistan juga mengumumkan untuk mendirikan syariat islam. Entah ini cuma reaksi dari kasus Lal Masjid atau sebaliknya, tapi yang jelas keadaan di Pakistan khususnya di kawasan Federal Administrated Tribal Area (FATA) sangat rawan bagi personil polisi dan tentara.

Penutup

Inilah sedikit gambaran tentang militansi dan madrasah di Paksitan. Penulis yakin makalah ini jauh dari sempurna. Namun paling tidak kita semua mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya yang telah terjadi. Hal ini sangat penting bagi kita mahasiswa Indonesia untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di Negara Jinnah ini, agar kita bisa menyiapkan diri dan berjaga-jaga dalam setiap tindakan. Dan yang lebih penting dari itu adalah mengambil pelajaran atau ibrah dari case ini untuk membangun negara Indonesia yang santun, damai dan sejahtera. Wallahu ‘Allam Bhishowab.

Footnote

* Makalah ini dipresentasikan dalam diskusi bulanan Al-Qalam pada 21 Juli 2007 di sector G-6 Melody Islamabad.
(1) Untuk mengetahui lebih lengkap sejarah Deobandi dan pergerakannya, silakan lihat buku Sohail Mahmoud “Islamic Fundamentalism in Pakistan, Egypt dan Iran” (1995) cet: 1, Vanguard Books Islamabad, hal: 367. dan Dr. Uzma Anzar “A Brief History of Madrasah” (March, 2003), hal: 14 dan seterusnya.
(2) Lihat makalah Katja Riikonen dalam Journal Pakistan Security Research Unit Brief No: 2 yang berjudul “Sectarianism in Pakistan: A Distructive Way of Dealing with Difference” Hal: 3.
(3) Lihat: Dr. Uzma Anzar “A brief history of Madrasah” (March, 2003), Hal: 14-15.
(4) Lihat: tulisan Amir Mir dalam Pengantar buku “A to Z of Jehadi Organization in Pakistan” hal: 5 dan seterusnya.
(5) Candice Lys “Demonizing the “other”: Fundamentalist Pakistani Madrasah and the Construction of Religious Violence”, Marburg Journal of Religion: Vol: 11, No. 1 (June 2006) hal: 2.
(6) Lihat: "Profile: Islamabad's Red Mosque", www. bbcNews.com, 3 July 2007. dan "Lal Masjid: A name synonymous with radical Islam", Associated Press, 11 July 2007. lihat juga di (www.wikipedia.com).
(7) Lihat: www.bbcnews.com, Saturday, 7 July 2007 dan www.wikipedia.com, May 2007.
(8) Lihat wawancara Rebecca Cataldi dengan Abdul Rashid Ghazi (International Center for Religion & Deplomacy), April 23-29, 2007. Hal: 8.

No comments: